Bukan Sekadar Viral, Gen Z Didorong Bangun Karakter dan Kompetensi untuk Hadapi Perubahan Zaman

Tangerang Selatan, STAI Al Amanah Al-Gontory

Menjadi generasi yang aktif di media sosial tidak otomatis membuat seseorang memiliki pengaruh positif. Di tengah derasnya arus informasi, perubahan teknologi, dan tuntutan untuk selalu mengikuti perkembangan zaman, generasi Z justru ditantang memiliki karakter, kompetensi, serta kemampuan membangun citra diri yang positif dan konsisten.

Pesan tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional “Gen Z Berdaya Indonesia Jaya: Membangun Generasi Muda Inovatif, Berkarakter, dan Berdampak” yang digelar di Aula Urwatul Wustqo STAI Al Amanah Al-Gontory, Tangerang.

Seminar menghadirkan Dr. Khafidhotun Nasikhah, M.Pd. sebagai narasumber dan Abdul Kholiq, S.Th.I., M.Pd. sebagai moderator. Kegiatan tersebut diikuti 130 peserta dan dihadiri Pimpinan Pondok Pesantren Al-Amanah Al-Gontory KH. Drs. Abdus Syakur, M.Pd., KH. Adityawarman, S.E., M.M., dan KH. Zainudin, S.Pd.I., M.Pd.

Turut hadir Ketua Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI), Hukum Ekonomi Syariah (HES), dan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), jajaran pengurus STAI Al Amanah Al-Gontory, serta para tamu undangan.

Dalam kesempatan tersebut, KH. Aditya Warman menyoroti tantangan yang dihadapi generasi Z sekaligus tanggung jawab lembaga pendidikan dalam menyiapkan generasi masa depan.

Menurutnya, perubahan karakter dan pola kehidupan generasi muda menuntut dosen untuk terus beradaptasi. Proses pendidikan tidak bisa dilepaskan dari perkembangan zaman yang dihadapi mahasiswa.

“Tantangan Gen Z, dosen dituntut beradaptasi agar membina, mencetak menjadi sumber daya yang tangguh,” ungkap KH. Aditya Warman.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa tantangan Gen Z bukan hanya menjadi tanggung jawab mahasiswa atau anak muda. Perguruan tinggi dan para pendidik juga dituntut mampu memahami karakter generasi yang mereka bina sehingga proses pendidikan tetap relevan dengan kebutuhan zaman.

Sementara itu, Dr. Surip, S.Ag., M.M., menekankan pentingnya kolaborasi dengan perilaku dan karakter pemuda dalam menghadapi perubahan zaman.

Ia mengingatkan bahwa kemampuan membaca perubahan merupakan bagian penting dalam membangun generasi yang mampu bertahan dan berkembang.

“Masa berkolaborasi dengan perilaku pemuda-pemuda,” tuturnya.

Ia juga mengajak generasi muda untuk menjadi pribadi yang mampu berpikir dan memahami perubahan zaman. Gagasan tersebut, menurutnya, dapat ditarik dari pesan yang terkandung dalam Shuhuf Ibrahim tentang pentingnya orang yang berpikir dan memahami zamannya.

“Orang yang berpikir, orang yang memahami rotasi zamannya menukil Shuhuf Ibrahim,” ujarnya.

Menurut Dr. Surip, kemampuan berpikir menjadi modal penting agar generasi muda tidak sekadar mengikuti arus perubahan, tetapi mampu memahami sekaligus meresponsnya secara tepat.

“Hanya orang-orang yang berpikir, yang ada pada zaman itu,” lanjutnya.

Ia menambahkan, Gen Z merupakan bagian dari sebuah masa yang memiliki karakter komunikasi dan perilaku tersendiri. Karena itu, penambahan ilmu bagi generasi muda harus berjalan beriringan dengan penguatan kompetensi.

“Gen Z sebuah masa yang berkomunikasi dengan perilaku anak muda, penambahan ilmu harus ada kompetensi,” tegasnya.

Sementara itu, Dr. Khafidhotun dalam paparannya menjelaskan bahwa Gen Z merupakan generasi yang lahir pada rentang 1997-2012 dan tumbuh sebagai digital native. Bagi generasi ini, ruang digital bukan lagi sekadar sarana tambahan dalam kehidupan sehari-hari.

“Dunia maya bukanlah ruang terpisah, melainkan ekstensi nyata dari kehidupan mereka,” jelasnya.

Karakter tersebut membuat Gen Z terbiasa dengan kecepatan, visualitas, interkonektivitas, dan personalisasi. Komunikasi pun banyak berlangsung melalui foto, video, stiker, dan berbagai bentuk konten visual.

Namun, menurutnya, kedekatan dengan dunia digital juga membawa tantangan tersendiri. Gen Z menghadapi persoalan kecemasan, Fear of Missing Out (FOMO), keterampilan sosial tatap muka yang kurang terasah, hingga kesulitan membedakan informasi yang benar dan misinformasi.

Materi seminar menyebut bahwa Gen Z terus dibombardir pesan dari berbagai sumber sehingga dapat memunculkan kebingungan, skeptisisme, bahkan membuat seseorang mudah terpengaruh berita palsu.

Karena itu, Dr. Khafidhotun menekankan pentingnya membangun personal branding secara positif. Menurutnya, personal branding bukan hanya perkara bagaimana seseorang terlihat di media sosial, melainkan bagaimana ia menampilkan citra diri secara utuh, baik di ruang digital maupun kehidupan nyata.

“Personal branding dapat didefinisikan bagaimana cara Anda menampilkan image juga citra diri di mata publik, baik online ataupun offline,” paparnya.

Ia menjelaskan, terdapat sejumlah hal yang perlu diperhatikan dalam membangun personal branding, yakni spesialisasi, tampilan sebagai identitas, kredibilitas, serta konsistensi antara apa yang ditampilkan di media sosial dan kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, personal branding yang dikelola dengan baik dapat memberikan manfaat bagi generasi muda. Di antaranya meningkatkan kepercayaan diri, kredibilitas, membangun relasi, hingga mendapatkan dukungan sesuai kebutuhan.

“First impression is matter but the important thing is consistency,” tegasnya saat menjelaskan pentingnya kesan pertama sekaligus konsistensi dalam membangun citra diri.

Lebih jauh, Dr. Khafidhotun mengingatkan agar personal branding tidak membuat generasi muda kehilangan jati dirinya. Justru, identitas yang autentik menjadi salah satu kekuatan dalam membangun reputasi.

Ia mengajak Gen Z untuk tetap menjadi diri sendiri, berfokus pada nilai yang dimiliki, serta menggunakan media sosial sebagai ruang untuk memberikan manfaat.

“Bijaklah dalam menggunakan media sosial untuk menebarkan kebajikan,” pesannya.

Ia juga menekankan bahwa berbagi konten dan pengalaman positif dapat menjadi bentuk kepedulian kepada sesama.

Sharing is caring. Focus on your value. Be yourself. Be professional,” lanjutnya.

Dalam konteks kehidupan nyata, narasumber mengingatkan bahwa personal branding tidak berhenti pada unggahan media sosial. Cara seseorang memperlakukan orang lain, tampilan visual, dan konsistensi perilaku juga menjadi bagian penting dari citra diri.

Prinsip tersebut selaras dengan ungkapan Jawa yang disampaikan dalam materi seminar, yakni “Aja adigang, adigung, adiguna” dan “Wong nandur bakale ngunduh.”

Untuk membangun personal branding secara terarah, peserta juga diajak mengenali diri melalui analisis SWOT, menentukan target audiens, memilih media sosial yang sesuai, serta membangun koneksi. Setelah itu, seseorang perlu menentukan tujuan berdasarkan value, menetapkan visi dan misi, menyusun strategi alternatif, dan membuat rencana tindakan yang sistematis menggunakan pendekatan 5W+1H.

Pada akhirnya, personal branding tidak dimaksudkan sekadar untuk mengejar popularitas atau menjadi viral. Personal branding harus menjadi bagian dari proses menghadirkan nilai dan dampak positif.

Personal Branding sebagai silent marketing,” demikian pesan yang ditekankan dalam materi seminar tersebut.

Karena itu, Gen Z didorong menjadi pribadi yang memorable, berani menjadi luar biasa, sekaligus tetap peduli terhadap diri sendiri.

Seminar nasional tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa dan generasi muda STAI Al Amanah Al-Gontory untuk merefleksikan kembali posisi mereka di tengah perkembangan teknologi. Gen Z tidak cukup hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga perlu memiliki karakter, kemampuan berpikir, dan kompetensi yang relevan dengan perubahan zaman.

Dengan demikian, “Gen Z Berdaya Indonesia Jaya” tidak berhenti sebagai tema seminar, tetapi menjadi ajakan agar generasi muda mampu mengubah kecakapan digital menjadi kekuatan untuk berkarya, membangun reputasi, berkolaborasi, dan memberikan dampak bagi masyarakat. (Singgih Aji Purnomo)

amanahgontory.ac.id
amanahgontory.ac.id
Articles: 55

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Assalamualaikum,
Saya Ahmad Dzikri Jalaludin Siap Memandu Anda